Sabtu, 16 April 2011

6 KARAKTER WANITA YANG TAK LAYAK DIJADIKAN ISTRI

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh4sWjQBMuYJxPxaBKbImcmk5P944o-Rx7OuhZjGRzWIUpUIbr9WEG6foHbhLkS04N5XrBFAtcIJwS_HCB_OtmL1lOnZz1-xziqBe2SwDLXiBps_Fz1carMl166Ay6s1rRvLY2lRMbSLPY/s400/siluet+wanita.jpg1. Al -Anaanah: 

banyak keluh kesah. Yg selalu merasa tak cukup, apa yg diberi semua tak cukup. diberi rumah tak cukup, diberi motor tak cukup, diberi mobil tak cukup, dll. Asyik ingin memenuhi kehendak nafsu dia saja, tanpa memperhatikan perasaan suami, tak hormat kepada suami apalagi berterima kasih pada suami. apa yg suami beri pun tak pernah puas. Ada saja yg tak cukup.


2. Al-Manaanah: 

suka mengungkit. Kalau suami melakukan hal yg dia tak berkenan maka diungkitlah segala hal tentang suaminya itu. sangat senang membicarakan suami: tak ingat budi, tak bertanggungjawab, tak sayang, dll. Padahal suami sudah memberi perlindungan macam2 padanya.


3. Al -Hunaana: 

ingin pada suami yg lain atau berkenan kpd lelaki yg lain. sangat suka membanding-bandingkan suaminya dg suami/lelaki lain. Tak redha dg suami yg ada.


4. Al- Hudaaqah: 

suka memaksa. Bila hendak sesuatu maka dipaksa suaminya melakukan. Pagi, petang malam asyik menekan dan memaksa suami. Adakalanya dg berbagai ancaman: ingin lari, ingin bunuh diri, ingin membuat malu suami, dll. Suami dibuat seperti budaknya, bukan sebagai pemimpinnya. Yg dipentingkan adalah kehendak dan kepentingan dia saja.


5. Al -Hulaaqa: 

sibuk bersolek atau tidur atau santai2 dll hingga lalai dg ibadah-ibadah asas, seperti solat berjemaah, wirid zikir, mengurus rumah-tangga, berkasih sayang dg anak2, dll.


6. As-Salaaqah: 

banyak berbicara, menggosip. Siang malam, pagi petang asik menggosip terus. Apa saja yg suami kerjakan selalu tidak benar dimatanya. Zaman sekarang ni bergosip bukan saja berbicara di depan suami, tapi dg telfon, SMS, internet, BBM dan macam2 cara yang lain . Yg jelas isteri tu asyik menyusahkan suami dg kata2nya yg menyakitkan.

KISAH MOTIVASI, SIAP MENDAPATKAN, SIAP KEHILANGAN

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiVfRGm_IK7wGmLnLi2ffzx6uB7wiT3A2XCbS0EtbkbfFI9B1hTWpPvBS8eFngn4H59RRZ_IV7Hsd9cipCdThEbETLt92JS3ZPe79SusUp8Cyh8nG6qAMTvfQSkF1F8e-lzkvfyZ6R6D4/s400/inspirasi+awal+tahun.jpgAlkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur.

Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangga- nya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang- barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan. Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu.

Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok- penyok,” gerutu nya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank. “Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perka kas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membu atkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan toples. Setelah ia membeli lembaran kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia mele wati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warna nya bagus, dan mutunya terkenal.

Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawar kannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur. Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

KIAT MEMILIH PASANGAN TERBAIK

http://media.vivanews.com/images/2010/01/07/83041_pasangan_minum_wine.jpg
Salah memilih pasangan atau pendamping hanya akan menimbulkan luka mendalam di hati Anda. Karena itu, sebelum jatuh cinta, ada beberapa hal yang harus Anda siapkan.

Memilih pasangan juga butuh trik. Fatal akibatnya jika Anda jatuh cinta pada orang yang salah. Ketimbang melakukan kesalahan, lebih baik ikuti beberapa kiat dari Sheknows berikut ini.





1. Ketahui niat Anda
Sebelum mulai menilai orang lain, yang harus dilakukan adalah mengetahui niat Anda menjalin hubungan. Jika alasannya Anda dan si dia saling menyayangi, silakan teruskan. Namun jika Anda hanya mencari pelampiasan atas rasa sakit hati akibat hubungan sebelumnya, atau putus asa karena sahabat Anda yang lain telah memiliki pasangan, sebaiknya pikir-pikir lagi.

Sebuah hubungan yang dimulai dengan niat tidak serius atau tidak baik, biasanya tak akan berakhir dengan baik.

2. Naikkan standar
Jangan mudah terlena dengan penampilan dan kata-kata manis. Tak ada salahnya untuk menaikkan standar Anda dalam mencari pasangan. Hal ini bukan berarti Anda sombong atau jual mahal. Tak ada salahnya mencari pasangan yang paling baik bagi diri Anda, bukan?

3. Berbagi cerita
Tak ada salahnya untuk berbagi cerita cinta Anda dengan saudara atau sahabat. Dengarkanlah pendapat mereka mengenai pilihan Anda. Penilaian objektif dari mereka akan membantu Anda melihat sisi sebenarnya dari pasangan.

4. Buat daftar keburukan dan kelebihan
Jika semua hal di atas sudah dilakukan namun perasaan Anda tak juga bisa diyakinkan, kini saatnya membuat daftar keburukan dan kelebihan. Coba lihat daftar mana yang lebih panjang. Jika keburukan lebih banyak dari kelebihan, maka tak perlu lagi meneruskan hubungan.

Sabtu, 09 April 2011

Mar Beranak di Limas Isa

Ada sebuah hikayat yang hendak aku terakan, tentang Bi Maryam istrinya Mang Isa. Perempuan yang telah melewati usia kepala empat, tetapi masih saja rajin beranak. Baiklah, untuk menuntaskan keingintahuan yang telah bersarang, kita buka saja cerita ini.

Oya, sebelumnya kita buat kesepakatan: Untuk memudahkan aku bercerita, kita singkat saja nama Bi Maryam menjadi Bi Mar, tersebab lidahku agak sulit menyebut namanya bila kuucapkan secara panjang. Jadi ketika aku menyebutkan nama Bi Mar, kau pahamlah kalau yang kumaksud adalah Bi Maryam istrinya Mang Isa, lantaran sangat banyak Bi Mar di dusun Tanah Abang.
Kita mulai cerita ini di suatu malam ingusan, ketika bulan tengah mati di kelam raya dan kesiuran angin penanda hujan telah bertiup sejak langit mulai temaram, tepatnya di bilik pengap Bi Mar dan Mang Isa, pada sebuah limas yang terpancang tak jauh dari bibir Sungai Lematang. Dan kisah ini dibuka oleh ucapan Kajut Mis, dukun beranak di dusunku, Tanah Abang.
”Masih belum terlihat, Mar. Kau harus bertahan. Ambil napas lagi, lalu kau ejankan kuat-kuat.”
Bi Mar tersengal, kedua tangannya mencengkeram kuat seruas bambu yang tergantung tepat di atasnya. Seruas bambu yang diikat kuat tali trap—tali yang terbuat dari kulit kayu bernama trap. Keringat telah membanjir di pelipisnya, melucumkan seluruh tubuh dan merembes ke kasur kapuk yang menampung tubuh kepayahannya. Ada rasa sakit yang mengili-ngili tubuhnya, merayap dari sendi-sendi, lalu menjalar ke seluruh pori. Sakit yang bermuara dari satu titik: perut bengkaknya.
Mertua Bi Mar, emaknya Mang Isa, terlihat cemas di sebelahnya. Padahal, ini bukan kali pertama ia mengawani menantunya ini bertaruh nyawa, melahirkan cucu-cucunya, hampir saban dua tahun sekali, ia mengulangi adegan yang selalu membuat jantungnya berdebar lebih kencang ini. Bahkan, ia pun telah berkali-kali melakoninya. Tetap saja, kernyit muka penuh nyeri Bi Mar tak urung membuat dadanya mengempis.
”Sudahlah, Mar, tak usah beranak lagi. Kau datangi saja bidan di puskes sana, minta KB,” itulah ucapan mertua Bi Mar dua tahun silam, ketika usai mengawaninya melahirkan Serina, anak gadisnya yang baru saja dapat berlari dengan sempurna. Kata-kata serupa tak terluncur dari mulut mertua Bi Mar saja, Kajut Mis, dukun beranak yang kian uzur itu, pun telah mengucapkannya empat tahun lalu, pun dengan mulut-mulut karib-karib Bi Mar—tapi tidak dengan mulut orang-orang di Tanah Abang.
”Tak kau tengok, Mar, anakmu sudah macam rayap? Menyempal-nyempal sampai limasmu sesak. Apa lagi yang nak kau ranakan? Gadis-gadismu sudah banyak. Empat belas orang. Apa kau buta hingga tak dapat menghitungnya?”
Sejatinya, Bi Mar tak buta. Mata beloknya yang indah itu dapat dengan sempurna menghitung jumlah anak perawannya. Pun jika hendak menuruti kemauan hatinya, ia sangat ingin untuk menyudahinya. Tetapi, ucapan lakinya, Mang Isa, selalu saja membuatnya tak berdaya, ujung-ujungnya kembali mengharuskan Bi Mar bertaruh nyawa, melahirkan anak-anaknya.
”Kita harus dapat anak bujang, Dik,” itulah kata-kata Mang Isa pada Bi Mar, ”Apa kata orang se-Tanah Abang bila jurai limas kita tak tertegak lantaran kita hanya melahirkan anak-anak perawan saja? Pada masanya, bila kita telah uzur dan anak-anak gadis kita telah diboyong laki mereka ke limas seorang-seorang, kita hanya tinggal berdua di limas ini, tak ada yang mengurusi. Lalu, kita akan mati bergilir dalam sepi. Nasib baik, jika kita mati bersama, hingga yang ditinggal tak merasa sunyi.”
Ucapan Mang Isa membuat mata Bi Mar menerawang, membayangkan dirinya ringkih dan tertatih-tatih sendiri dalam limas. Menanak nasi, mandi ke Sungai Lematang, mengumpulkan kayu bakar, merumputi lapangan sekitar limas, menyambangi kebun duku-durian, menyayatkan pahat pada kulit balam di pagi kelam. Mendadak, tengkuk Bi Mar meriap. Alangkah menakutkan bayang itu di matanya.
”Kalau kita ada anak bujang. Ada yang menunggu limas, memboyong istri dan anaknya di sini, bersama kita. Mengurus kebun duku-durian, menyadap balam pagi-pagi kelam. Kita hanya tinggal di rumah saja, bermain dengan cucu-cucu yang banyak. Tak usah risau bila ada yang sakit karena tua, tak perlu cemas kalau-kalau kita mati tak ada yang tahu musababnya. Sebab, ada yang bersama kita. Anak bujang dengan anak dan istrinya,” tambah Mang Isa membuat mata Bi Mar mengatup rapat. Alangkah indah.
Sekelebat pula sebuah bayangan mengantar-kantar mata Bi Mar yang terpejam. Sebuah bayangan yang mendadak menciutkan kembali nyalinya. Bi Mar teringat akan nasib buruk Mak Salit. Perempuan tua itu kini hidup sendiri di limasnya yang megah setelah lakinya meninggal beberapa purnama silam. Nasib malangnya bukan lantaran karena Mak Salit seorang perempuan mandul yang tak punya anak. Anaknya banyak, hampir mencapai sepuluh orang. Sayangnya, semua perawan dan telah mengikuti laki-lakinya di dusun-dusun tetangga.
Mungkin, bukan tak ada anak-anak perempuan Mak Salit yang tak iba melihat nasib malang Emak mereka. Dapat pula sebenarnya mereka takut akan mendapatkan nasib serupa di masa tua lantaran telah menelantarkan Emak mereka. Tapi, apa yang dapat mereka perbuat sebagai perempuan selain tunduk kepada suami dan adat yang mengikat? Tak akan mertua mereka mengizinkan, bila anak bujangnya menunggui limas mertua, mengikuti istri melangkah, menegakkan jurai perempuan sembari membunuh jurai keluarga seorang lanang.
Itulah mengapa Bi Mar seolah-olah menulikan telinga dari ucapan mertuanya, ucapan Kajut Mis, dan karib-karib sebayanya. Ia harus dapat anak bujang, tak peduli dengan ucapan segelintir orang. Orang-orang Tanah Abang pun paham apa yang hendak ia capai dengan lakinya.
***
”Mungkin kau kurang syarat, Mar, jadinya selalu meranakkan perawan,” ucapan itu Bi Mar dapat dari Kajut Muya ketika perempuan tua yang tak seorang pun memiliki anak perawan itu, sekali waktu menyambangi limas Bi Mar seusai Bi Mar melahirkan anaknya yang keempat belas, Serina.
”Syarat apa, Jut?” kejar Bi Mar dengan mata berbinar. Ada semangat yang meluap dari dadanya hingga Bi Mar seolah lupa dengan tubuhnya yang masih kepayahan sebab baru saja meranakkan anak gadisnya yang kesekian. Di mata Bi Mar terlintas deret-deret bujang Kajut Muya yang elok-elok parasnya.
”Kau malinglah sereket dari kayu ribu-ribu milik bibi atau saudara perempuan lakimu yang telah beranak bujang. Usai itu, kau pakai sekali saja saat menanak nasi. Nah, nasi-nasi yang menempel di sereket itu kau makan, lalu simpan sereketnya di bawah kasur kapuk kau dengan Isa. Insya Allah, kau akan dapat anak bujang. Aku pun dulu demikian, Mar. Awal-awal menikah hingga anakku bujang semua.”
Bibir Bi Mar mengembang, serupa kuntum bunga yang menemukan masanya mekar. Ada luap keinginan yang rasanya hendak lekas-lekas ia tunaikan. Bila tak sadar dirinya masih terkulai di atas lamat kapuknya, mungkin Bi Mar telah gegas meninggalkan Kajut Muya seorang saja bersama gadisnya yang masih merah. Di matanya yang mendadak berbinar, Bi Mar telah dapat limas siapa yang akan ia satroni, menggondol sereket kayu ribu-ribu penanak nasi: Limas Bi Jumar, adik mertuanya yang memiliki banyak bujang.
Begitulah, seusai merasa dirinya telah sehat walafiat, Bi Mar melancarkan aksinya. Pada petang yang kesekian di bilangan almanak rumah, Bi Mar berpura bertandang sembari memamerkan anak gadisnya yang merah. Ketika Bi Jumar lengah, Bi Mar mengambil sereket kayu ribu-ribu yang terselip di dinding limas samping periuk yang bergemerutup. Entah, apa Bi Jumar sebenarnya paham apa yang dilakukan Bi Mar atau ia benar-benar tak mengetahuinya. Bi Mar melenggang pulang dengan sereket kayu ribu-ribu yang terselip di balik besannya.
Di rumah, Bi Mar gegas menanak nasi seperti biasa, meletakkan perawannya yang masih merah dalam ayunan. Lalu, melakukan petuah Kajut Muya padanya. Menggunakan sereket kayu ribu-ribu milik Bi Jumar untuk mengaron nasinya hingga matang. Dan, memamah nasi yang tertinggal di sereket. Usai itu, Bi Mar menyelipkan sereket itu di bawah kasur, tempat ia dan Mang Isa tidur.
***
Keinginan Bi Mar memiliki anak bujang kian menjadi saja. Sebab, ada berita yang tengah hangat dibicarakan perempuan-perempuan di batang—tempat mencuci dan mandi di Sungai Lematang. Berita tentang Mang Marwan yang berbini dua!
Kata berita yang lagi hangat-hangatnya itu, Mang Marwan berbini dua lantaran tak kunjung mendapatkan anak bujang dari istrinya, Bi Murni. Bi Mar pun ingat, ada lima anak gadis Bi Murni itu. Semua berparas elok, berbibir tipis dengan hidung bangir, kulit putih dan mata sipit, mirip Mang Marwan yang memang termasuk lelaki rupawan.
Mendadak, degup di jantung Bi Mar terasa tak normal. Ada dag-dig-dug yang tak biasa. Ia seperti merasa, mata-mata perempuan yang mencuci dan mandi di batang seolah-olah mencuri pandang. Seperti perempuan-perempuan itu tengah meramalkan nasibnya pun akan seburuk Bi Murni yang tengah dikisahkan. Dimadu oleh lakinya lantaran tak kunjung mengoekkan anak bujang dari selakangannya. Tak kunjung menegakkan jurai limas dengan menetak burung bujang ingusan.
Gegas sekali Bi Mar menyikat baju cuciannya, membilas, dan menyabuni tubuhnya. Lalu, membasuh diri dengan air Lematang yang mengalir. Setelah itu, ia terburu melangkah pulang. Dalam hatinya yang kusut-masai, ia percaya, mata-mata perempuan di batang masih saja tertuju hingga tubuhnya lenyap dari pandangan.
Bi Mar pun mulai waswas melihat tingkah pola Mang Isa. Bila lelaki itu tak kunjung pulang pada malam yang kian larut saja, hatinya mendadak dibalur cemburu. Jangan-jangan Mang Isa tengah memadu kasih dengan janda di dusun ini dan itu. Mengurai rencana dan sudah mulai menyusun kata, bila ia menangis sembab ketika mendapati Mang Isa dikabarkan telah berbini dua kelak.
Bi Mar pun kian risau, bila ia mendapati dirinya masih saja datang bulan. Padahal, ia sangat berharap ada sesuatu yang tumbuh di perutnya, buah dari cinta dengan Mang Isa. Sesuatu yang ia harapkan membayar tunai kegalauannya.
Rupa-rupanya, Tuhan mendengar doa Bi Mar, atau ini hanyalah kebetulan semata. Pastinya, hal ini memang sudah tersemat dalam kisah semesta. Bi Mar kembali hamil muda. Lalu, pelan-pelan perutnya membengkak, menuju bilangan bulan demi bulannya, seiring anak gadis yang keempat belas belajar berjalan. Segala syarat yang ia dapatkan dari tetua, orang-orang yang telah kenyang asam garam dunia, ia lakonkan, tujuannya cuma satu saja: Kali ini ia beranak seorang bujang. Menyudahi pertarungan yang sejatinya enggan ia ulang.
***
Angin kian mendedas di pelipir limas, meningkahi perjuangan Bi Mar dalam bilik pengap. Sesekali terdengar rintik mengimbau di atas genting. Kajut Mis masih terus memberi aba-aba, menyemangati Bi Mar yang kian kepayahan. Usia yang sudah lewat kepala empat, anak yang kata Kajut Mis sungsang, membuat perjuangan Bi Mar kian berat. Sementara itu, di tengah limas, Mang Isa menunggu dengan cemas, anak-anak perawannya meringkuk dalam senyap. Doanya cuma sebatang kalimat: Anak bujang! (*)

Laron


Sedari pagi hujan terus mericis. Hingga menjelang magrib baru liris, menjadi gerimis-gerimis tipis. Ketika langit mulai gelap, dan lampu-lampu rumah dinyalakan, hujan sudah sempurna reda. Satu dua laron mulai muncul dan berputar-putar mengitari lampu di teras rumah. Semakin lama semakin banyak. Bahkan, beberapa sudah mulai menghambur ke dalam rumah, melewati ventilasi dan celah-celah pintu jendela.
Tanpa sepengetahuan bapak, aku membuka pintu depan, sedikit, supaya laron-laron itu bisa masuk ke dalam rumah, dan bisa kuajak bermain dan berbincang-bincang. Tak kurang dari satu menit, laron-laron itu sudah memenuhi
ruang tamu, dapur, dan kamar-kamar. Berputar-putar berebut cahaya. Sayap-sayap kecil mereka bertebaran di mana-mana bagai potongan-potongan kertas yang sengaja disemburatkan di pesta ulang tahun atau perayaan-perayaan.
Aku berteriak girang sambil meniupi sayap-sayap laron yang luruh ke lantai. Indah sekali. Aku membayangkan saat itu sedang hujan sayap, sayap peri. Tapi, tiba-tiba bapak muncul dari kamarnya dan berteriak-teriak. Aku mengkerut.
”Dasar bocah gak punya otak, pintunya kok malah dibuka. Laronnya masuk semua, Goblok!” teriak bapak sambil menutup pintu depan yang tadi kubuka sedikit. Ia menutupnya dengan setengah membanting.
”Sayapnya itu sulit disapu. Kamu mau nyapu?” kata bapak lagi sambil mendorong kepalaku dengan kasar.
Dengan sangat cepat, bapak mematikan semua lampu di dalam rumah. Seketika itu semua gelap. Dan aku berteriak ketakutan, memanggil-manggil ibu.
”Ada apa tho ini?” terdengar suara ibu, dan klik, ibu kembali menyalakan lampu.
Dari dalam kamar, bapak berteriak lagi, ”Jangan dinyalakan lampunya! Laronnya biar keluar dulu!”
Ibu tidak menyahut. Ibu segera menggandengku dan membawaku masuk ke dalam kamar. Dari dalam kamarku, aku mendengar bapak mengumpat lagi.
”Kampreeet!! Dibilangin suruh matikan kok….” Dan klik, ruang depan kembali gelap. Hanya lampu kamarku yang menyala. Ibu menutup pintu kamarku rapat-rapat.
”Ditutup, ya, biar laronnya gak masuk,” kata ibu lembut. Aku mengangguk karena di kamarku sudah ada beberapa laron yang beterbangan mengitari lampu, sebagian hinggap di gorden jendela, dan beberapa—yang sayapnya tinggal dua—berpusing-pusing di lantai. Aku tertawa geli melihatnya. Tapi, mendadak aku jadi ingat ketika bapak memusing-musingkan kepalaku dan mengguyuriku dengan air, beberapa waktu lalu, ketika aku asyik bermain keran dan kemudian mematahkannya. Maka, kembali aku bertanya dengan bahasa mata kepada ibu.
”Mengapa bapak suka memarahiku, Bu?”
Ibu tersenyum, diusapnya liur yang hampir menetes dari bibirku yang lebar. Ibu mentapku, ”Bapak tidak marah padamu, bapak cuma tak suka kalau rumah kita ini kotor. Sayap-sayap laron itu bikin kotor. Susah disapu.”
Aku mencerna perkataan ibu, dan memanyunkan bibir sebagai pemakluman. Namun, pemakluman itu masih terasa belum tunai, mengingat perlakuan bapak selama ini padaku. Hati kecilku selalu mengatakan bahwa bapak memang tak pernah suka padaku. Lamat-lamat aku teringat pada sebuah malam, di mana bapak dan ibu bertengkar gara-gara aku tidak menghabiskan makan malam. Malam itu bapak sendiri yang mengambilkan porsiku karena waktu itu ibu belum pulang dari pengajian. Bapak mengambilkan porsiku dua kali lebih banyak dari biasanya—yang diambilkan ibu. Malam itu, bapak terus mengawasiku. Padahal sudah hampir setengah jam aku mendiamkan makananku.
”Habiskan nasinya!” gertakan bapak saat itu membuatku gemetar. Saat itu aku menyesalkan ibu yang tidak pulang-pulang.
”Sekarang beras mahal!” Bapak terus memelototiku sambil sesekali menggebrak meja. Maka, dengan sangat terpaksa nasi itu kumasukkan ke dalam mulutku. Beberapa kali aku ber-”hoek”, hendak muntah.
Bapak semakin geram. Ia mendekatiku dan menjejalkan nasi itu ke mulutku hingga berceceran di lantai. Aku menangis tanpa suara. Saat itulah tiba-tiba ibu datang dan menampik tangan bapak.
”Apa-apaan ini, Pak!?”
Ibu membersihkan nasi yang tumpah di bajuku dan segera membawaku masuk ke dalam kamar. Di luar kudengar bapak berteriak-teriak, ganti memarahi ibu. Agak lirih suara ibu, menuntaskan pembelaan. Namun suara bapak semakin menggelegar, ia mengeluarkan sumpah serapah yang tak kupahami artinya.
”Sudah kubilang, dari dulu, bocah cacat itu dititipkan ke panti asuhan saja. Biar tidak merepotkan kita.” Suara bapak terdengar jelas dari kamarku, disusul suara ibu yang terdengar seperti menangis.
”Gusti Allah menitipkan dia buat kita, Pak! Dia anak kita! Satu-satunya!”
Selanjutnya kudengar bapak meneriakkan namaku dengan sebutan bocah idiot, autis, bisu, gagu, dan seterusnya… yang direnteti ungkapan penyesalan seperti dendam.
Beberapa kali terdengar suara ibu menyela dan meninggi, meminta bapak beristigfar. Kudengar juga ibu mengumpat bapak dengan sebutan ”seperti orang tak tahu agama”. Maka terdengar suara plak, kulit beradu kulit, dan setelah itu sepi.
***
Ibu mengusap rambutku ke belakang. Kemudian ibu bercerita panjang tentang bapak. Kata ibu, sebenarnya bapak sangat sayang padaku. Hanya saja, bapak tak suka bila aku berbuat nakal.
”Maka dari itu, kamu tak boleh nakal lagi, yang nurut sama bapak,” kata ibu kemudian.
Aku jadi sangsi pada perkataan ibu, bukankah selama ini aku selalu menuruti perkataan bapak. Bahkan, ketika bapak memintaku mengambil makanan yang telah kubuang di tempat sampah dan memakannya kembali, aku menurutinya. Tentu waktu itu ibu tidak tahu.
”Janji, ya!” kata ibu lagi. Aku mengangguk saja hingga ibu mengecup keningku dan beringsut meninggalkan kamarku.
Di dalam kamar, aku sudah tidak lagi memikirkan perkataan ibu ataupun perangai bapak padaku. Yang kupikirkan adalah laron-laron itu. Sebenarnya aku berniat membuka jendela kamarku supaya laron-laron di luar bisa turut masuk ke kamarku. Tapi hal itu kuurungkan. Aku takut, kalau membuka jendela kamar termasuk perbuatan nakal yang tidak disukai bapak. Maka aku bermain dengan laron-laron yang ada di kamarku saja. Sebagian besar dari mereka sudah gundul, tanpa sayap. Mereka berjalan beriringan di sudut-sudut lantai. Yang berputar-putar seperti gasing juga masih ada.
Aku mendekati laron-laron itu dan mengajaknya bermain. Tapi, ketika jari telunjukku menyentuh laron-laron itu, mendadak laron-laron itu berhenti bergerak. Kemudian, laron-laron itu mengeluarkan suara.
”Kami sudah gundul, pesta kami sudah usai. Ternyata pesta kami sangat singkat,” katanya.
”Sekarang kalian mau ke mana?” tanyaku.
”Menemui ajal,” jawab mereka.
”Jika kami tahu, pesta kami sangat singkat, dan sayap-sayap kami sangat rapuh, kami akan memilih untuk tetap menjadi rayap,” kata laron yang lainnya.
”Mengapa?” tanyaku lagi.
”Kami tak pernah merasa cukup menjadi rayap tanah, kami ingin punya sayap dan terbang bebas menikmati cahaya. Dan inilah yang terjadi….”
”Apa yang terjadi?”
”Kamu lihat sendiri. Kami hanya berputar-putar menunggu mati. Hidup kami akan berakhir di perut katak atau cicak. Kalau lebih buruk lagi, kami akan mati terinjak-injak manusia, tak bersisa, dan tak pernah berarti apa-apa. Semoga kamu tidak menjadi seperti kami.”
”Menjadi laron?”
”Bukan!”
”Menjadi apa?”
”Menjadi makhluk yang tidak pernah puas menerima pemberian Tuhan, anugerah Tuhan.”
Tiba-tiba aku teringat bapak.
”Sudah! Biarkan kami pergi,” kata laron itu lagi.
”Pergi ke mana?”
”Maut. Kami harus menemui takdir kami.”
”Kalau begitu kalian kupelihara saja.”
”Jangan! Kami sangat bau. Nanti kamu dimarahi bapakmu lagi.”
”Kalian kusembunyikan saja di kamarku.”
***
Diam-diam, aku membuka pintu kamar. Berjingkat ke dapur, mengambil rantang plastik di rak piring. Jika bapak atau ibu memergokiku, aku akan bilang kebelet pipis. Tapi bapak ataupun ibu tak memergokiku. Aku berhasil kembali ke kamarku dengan selamat. Kukunci pintu kamarku rapat-rapat. Aku membuka jendela kamarku lebar-lebar, seperti orang lupa. Saat laron-laron dari luar berhamburan ke dalam kamarku, sama sekali aku lupa soal bapak. Yang kutahu hanya bahwa detik itu—saat laron-laron beterbangan menuju kamarku—adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan. Kubayangkan kamarku penuh oleh peri-peri kecil yang berkerik lirih dan merdu.
***
Aku senang sekali, malam itu, bapak ataupun ibu tidak kembali ke kamarku. Pasti mereka mengira aku sudah tidur. Padahal, malam itu aku begadang sampai larut malam. Memunguti laron-laron itu dan memasukannya ke dalam rantang plastik. Sayap-sayap yang berceceran di lantai kubersihkan dengan kertas basah yang kulumuri ludah. Kutempelkan kertas basah itu perlahan ke sayap-sayap yang berceceran. Ternyata mudah sekali membersihkan sayap laron. Setelah kamarku bersih. Aku membuang kertas-kertas basah yang penuh sayap itu keluar jendela. Kututup kembali jendela kamarku pelan-pelan. Kututup pula rantang plastik yang penuh laron itu dengan sebuah buku tulis tebal sebelum akhirnya kudorong ke bawah ranjang dan kutinggal tidur.
***
Pagi-pagi sekali ibu sudah membangunkanku. ”Kenapa pintunya kok dikunci?” tanya ibu. Aku menatap ibu sambil mengibaskan tangan. Ibu paham yang kumaksudkan supaya laronnya tidak masuk. Hatiku agak tidak enak membohongi ibu. Tapi aku juga kasihan pada laron-laron itu. Ibu menyuruhku segera mandi. Detik itu aku berdoa semoga ibu tidak menggeledah kamarku. Apalagi bapak. Tapi doaku muspra, tak terwujud. Karena tiba-tiba bapak datang dan mengendus bau kamarku.
”Kamar ini kok bau laron busuk, ya?” tukasnya. Hidungnya mengendus seperti tikus.
Hatiku sudah tidak enak. Ibu mengingatkanku kembali untuk lekas-lekas mandi. Aku berjalan ke kamar mandi dengan hati cemas. Aku pun mandi ala kadarnya. Kalau tidak dimandikan ibu, aku memang tak pernah mau mandi memakai sabun. Apalagi gosok gigi. Dan tampaknya, pagi itu ibu masih sibuk membersihkan sayap laron di dapur, kamarnya, dan ruang tamu. Selepas mandi, aku buru-buru ke kamar. Kutengok kolong ranjangku, dan rantang plastik berisi laron yang kututupi dengan buku tulis sudah raib, tak ada di sana. Aku tersentak dan hampir terpeleset ketika tiba-tiba bapak menyeret telingaku dan membawaku ke muka ibu.
”Lihat ini!” bapak melemparkan rantang plastik berisi laron itu ke depan ibu. Laron-laron itu tumpah dan merayap ke mana-mana. Secepat kilat ibu merapikannya dan membawanya ke dapur. Bapak menyusul ibu ke dapur.
”Semalam dia tak tidur; kau lihat pula sana, di bawah jendela kamarnya!” kata bapak lagi. Telingaku terasa nyeri, tapi tangan bapak masih utuh di sana.
”Kau membohongi ibu?” tutur ibu berkabut.
Aku mulai menangis. Air mataku mulai meleleh. Tapi tak seulas suara pun keluar dari mulutku. Ibu meninggalkanku dengan tatapan kecewa, ia berjalan menuju kamarku. Bapak masih menyeret telingaku, menyusul ibu. Di kamar ibu menengok keluar jendela dan menggelengkan kepala beberapa kali. Lantas ibu pergi begitu saja. Tapi matanya merah, seperti mau menangis. Sementara ibu pergi, bapak menghujani pipiku dengan tamparan. Dijambaknya rambutku sebelum akhirnya aku dilempar ke ranjang.
Di dalam kamar, aku sesenggukan menahan nyeri. Hingga akhirnya ibu datang dengan membawa salep dan sapu tangan. Setelah mengusap wajahku. Ibu menidurkan aku di pangkuannya.
***
Aku masih belum berani keluar kamar dan bertemu bapak, hingga akhirnya ibu menuntunku ke ruang tengah untuk makan malam. Di sana kulirik bapak dengan wajahnya yang dingin seperti batu. Ibu mengambilkan aku nasi dan sayur. Perlahan kutilik satu demi satu lauk-pauk yang terhidang di meja. Hingga mataku mendarat pada sebuah toples berisi rempeyek dengan bintik-bintik hitam. Semula, aku mengira rempeyek yang dibuat ibu adalah rempeyek kedelai hitam. Namun, mendadak bapak berkomentar.
”Rempeyek laronnya gurih sekali.”
Aku mengangkat wajah. Memerhatikan bapak yang tengah lahap mengganyang rempeyek laron. Tak henti-henti bapak mengudapnya. Habis satu, ia ambil lagi dari dalam toples hingga rempeyek dalam toples tinggal separuh. Saksama kuperhatikan mulut bapak yang terus bergerak mengunyah rempeyek laron itu. Kuperhatikan mulut itu, bibir itu, gigi itu, lidah itu. Sungguh sangat menjijikkan. Dalam penglihatanku, bapak sudah menjelma menjadi seekor katak raksasa yang mengunyah serangga sampai sayap-sayapnya.

Pusara

Apalagi yang luput untuk diceritakan? Gelas-gelas kosong, isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci
menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban.
Suasana berkabung dengan air mata dan doa-doanya terlalu menyedihkan. Aku memandang Togar, teman lamaku sejak kecil, dari kejauhan. Dia setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Padahal dia berhak untuk itu. Kami berdua dan adiknya; Ranto, yang menjadi jenazah sekarang, tak pernah luput satu sama lain semenjak kecil. Aku pun mestinya menangis, tapi tidak. Tuhan—dan Anda juga nanti—tahu aku adalah orang yang menyedihkan. Tidak perlu air mata untuk membuktikan itu. Para pelayat mulai surut; tinggal keluarga inti, beberapa kerabat dekat dan kekasih yang ditinggal pergi. Aku meminta diri. Togar mengerti lalu mengantar sampai ke pintu. Jabat tangan kami berlanjut jadi pelukan erat. Aku merasakan cairan hangat merembes di punggungku. Samar sebuah isak lolos dari pengawasannya, kemudian dia melepas lengannya dariku dengan wajah seperti yang selalu kulihat: air muka keras dengan keangkuhan yang khas serta segaris senyum yang jarang luput dipasang. ”Sering-sering main ke sini,” katanya. ”Pasti,” jawabku. Kami saling bertukar salam dan dia kembali menyelinap dalam kesedihannya. Aku berbalik menelusuri jalan pulang. Pukul dua. Fajar tinggal beberapa jam lagi. Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah tanpa menoleh ke arah rumah duka untuk terakhir kalinya. Aku tidak bisa kembali melihat kesedihan itu. Tidak setelah air mata Togar merembes di punggungku. Aku tidak pernah menyambanginya lagi setelah malam itu. Mungkin kematian bukanlah hal yang menyenangkan untuk memulai sebuah cerita, tapi sebuah cerita tetap harus dimulai dengan cara apa pun itu. Yang barusan kau baca bukanlah kematian pertama dan, aku bisa memastikan, bukanlah yang terakhir yang pernah bersentuhan denganku. Enam bulan setelahnya, kakek meninggal. Nenek benar-benar terpukul dan nampak kehilangan sebagian besar porsi kehidupannya. Satu tahun kemudian, beliau menyusul. Sebelum kusadari, aku mulai menandai waktu dengan kepergian orang-orang di sekelilingku. Mungkin aku terkesan terlalu muram; terlalu melebih-lebihkan, tapi seperti sudah kubilang sejak awal, pada dasarnya aku memang orang yang menyedihkan. *** Selepas kuliah aku mulai mengendus rupiah sebagai freelance graphic designer. Nama yang kedengarannya cukup upbeat—mungkin karena ditulis dalam cetak miring—tapi biar aku luruskan terlebih dahulu: kemilau graphic design nyaris hanya sebatas nama. Sebagian lulusan sekolah graphic design terdampar menjadi pengusaha jasa printing kelas menengah dan sebagian besar ilmu yang dibayar dengan harga mahal tersesat tak tersalurkan. Sebagian lain bekerja mati-matian untuk memenuhi tuntutan industri kemasan sekaligus harus berhadapan dengan klien keras kepala, pesaing picik dan perlombaan dengan waktu. Lama-kelamaan kau akan kelelahan dan ketika rasa lelah itu merongrong batok tengkorakmu, fakta yang tak terelakkan menendang bokongmu: kreativitas yang awalnya kau harapkan akan membantu mendaki tangga karier tak membawamu ke mana-mana. Kreativitas hanya kemampuan membongkar-pasang idiom-idiom klise lawas dari tempat sampah untuk menghasilkan sesuatu yang—nampaknya—baru. Yang benar-benar kau butuhkan adalah kecerdasan sosial. Secara finansial mungkin pekerjaan ini tidak terlalu memuaskan, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku juga butuh makan dan orangtuaku tidak bisa terus-terusan memanggul tanggung jawab itu. Bekerja adalah hal yang semestinya dilakukan selepas kuliah. Untuk itulah orang rela membuang uang demi pendidikan. Semua orang tahu: lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, kerja lagi, dan akhirnya, mati. Hari-hari berlalu. Banyak cerita yang luput. Lima tahun setelah pemakaman Ranto aku berusia dua puluh enam dengan pekerjaan tetap dalam media massa. Wanita datang-pergi, dua tahun ini bernama Asri. Satu tahun lebih muda, cerdas, manis, dan punya senyum menawan ala iklan pasta gigi. *** Kematian menghadang suatu pagi. Tak diduga dan tak dikenal, bergelimpang begitu saja di tengah jalan dengan sayur-mayur, tangis bocah dan sepeda motor tua. Sebuah truk melanggar sebuah keluarga kecil yang berboncengan di atas motor di perempatan. Sang ibu hanya luka kecil, begitu juga dengan kedua anaknya—bocah laki-laki sekitar lima tahun dan gadis cilik selisih beberapa tahun lebih tua, keduanya berseragam SD. Namun tidak dengan sang bapak. Wajahnya rusak terhantam trotoar dan tubuhnya remuk tergilas roda truk. Dia tewas seketika. Puluhan orang mengerubung, polisi merapikan lalu lintas yang kusut. Beberapa orang ditagih keterangan. Sopir truk bermata merah diamankan. Aku urung bekerja hari itu. Ibu terkejut melihat kepulanganku, hari masih pagi dan aku sudah pulang dengan awan hitam menggantung di atas ubun-ubun. Aku bilang sedikit tidak enak badan, dia percaya lalu pergi ke kamar mandi. Di atas kasur aku mereka ulang kejadian; bapak menjemput ibu di pasar lalu mengantar kedua anaknya bersekolah. Lampu lalu lintas berubah merah, tapi kedua anaknya sudah hampir terlambat. Tak ada kendaraan lewat di depan. Dia tancap gas. Lalu sopir truk: pertengkaran dengan istri membuatnya tak bisa tidur semalaman, matanya berat meski segelas kopi kental sudah disikat. Lampu kuning, dia mengusap mata dan menggeleng keras mengusir kantuk. Gas diinjak dalam karena kecepatan bisa membuatnya tetap terjaga. Sepeda motor melengang dengan suara terbatuk. Kantuk diusir panik. Rem sempat diinjak, tapi terlambat tetap terlambat. *** Keputusan itu datang begitu saja. Mendadak menelusup masuk ke kepalaku ketika ia terpelanting di atas bantal. Aku harus keluar dari tempat ini, sangkar yang menjadi tempatku kembali sampai sekarang. Memalukan, kata orang, masih tinggal bersama orangtua. Tapi bukan itu yang jadi alasan. Kejadian di jalan beberapa hari lalu terus menghantui kepalaku. Darah di jalan, anak-anak menangisi kematian ayah di dekapan ibu mereka—begitu intim. Begitu tragis. Seperti foto di dinding: ibu—dengan gaun merah dan rambut disisir ke belakang—di sebelah kiri; memangku adik yang tidak sempat bersiap untuk difoto, ayah mengenakan jas hitam dan sebuah kumis tipis berdiri kaku di samping ibu, aku di depannya, tujuh tahun, dengan setelan kemeja putih dan tawa lebar. Waktu membuat foto itu usang. Kenangan di dalamnya terasa berjarak. Di dalam bingkai itu aku menemukan sebuah keluarga. Begitu intim. Ketika aku mendapati diriku sendirian di meja makan untuk makan malam: begitu tragis. Tidak ada drama ketika aku pergi karena aku tidak pergi jauh. Rumahku hanya empat puluh lima menit dari rumah. Ibu masih tertidur waktu aku mengangkut barang terakhir, adik sudah pergi kuliah sedari pagi dan ayah pun tak ada di rumah. Tempat tinggal baruku benar-benar sederhana. Satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur. Sedikit perabotan… paling tidak aku bisa menyebutnya rumah. Dua tahun kemudian aku dan Asri menikah. Hari-hari yang baru menunggu di depan sana. Aku mencintai Asri dan mungkin dia juga begitu. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus menyisip dari balik selimut, kopi pagi, dan telepon di jam istirahat. *** Suatu malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpiku pasti buruk sekali, mujur aku lupa ketika terjaga. Mimpi itu masih menyisakan teror yang merayap di balik kulit. Merobek dinding tipis yang memisahkannya dari realitas dan mengintip dari celah sempit. Mengintai dengan tajam matanya yang entah, menunggu waktunya tiba. Aku tidak tahu apa. Asri tidur meringkuk memunggungiku. Tersesat dalam mimpinya sendiri. Saat seperti inilah, pembaca yang budiman, kesepian nyata-nyata menyelimuti dan kau bisa menggapai tanganmu untuk merangkulnya. ”Jatuh tertidur sungguh mengerikan,” celetuk Patricia Franchini. ”Tidur memisahkan manusia. Meski kau sedang tidur bersama seseorang, kau tetap sendiri.” Hey, siapa Patricia Franchini? Apa urusan dia di cerita ini? Aku bangkit menuju dapur untuk sekaleng bir lalu duduk di ruang tamu. Dua pasang mata di dinding memandangiku tanpa berkedip. Tapi bukan aku benar yang mereka pandang. Tatapan itu terlempar jauh ke depan, menantang masa depan dan segala kejutan yang disimpannya tanpa bersenjata apa-apa. Mungkin tanpa senjata sama sekali pun tidak sepenuhnya benar. Keduanya membersitkan cinta. Kau bisa melihatnya dari mata Asri yang sedikit sembap karena haru. Hari pernikahan kami benar-benar melepaskan kodratku sebagai makhluk yang—pada dasarnya—menyedihkan. Sampai sekarang pun aku masih merasa asing di depan foto pernikahan kami. Inikah jawabannya—jalan keluar dari kehilangan dan kematian yang bertubi-tubi? Tiba-tiba aku bertanya-tanya. Cintakah? Kalau benar, apakah benar aku mengalaminya? Cintakah Ferdinand dan Mariane, Samsul Bahri dan Siti Nurbaya—cintakah strangers in the night yang begitu sendu dinyanyikan Frank Sinatra? Kalau bukan, kenapa aku menitikkan air mata untuk mereka, seperti aku menitikkan air mata ketika Asri mengatakan ’iya’ untuk lamaranku? Aku tidak menemukan jawabannya. Cuma ada tanah basah dan nisan dingin. Kaleng bir lolos dari genggamanku lalu menghantam ilalang. Gila, hidupku hanya perjalanan dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Selalu tentang kematian dan kehilangan. Pikiran ini sudah cukup untuk menerormu seumur hidup. Aku bersimpuh di depan nisan kakek. Nenek dan Ranto nampak tersenyum satu meter di bawah tanah. Dengan pengap dan belatung yang menggerogoti tubuh bagaimana mereka bisa tersenyum—seperti apa wujud tengkorak ketika sedang tersenyum? Aku menemukan diriku terkapar. Peluh merangkak dari ujung mataku. Tak mengapa. Tak mengapa, tegasku meyakinkan diri sendiri. Samar lagu mengalun. Sebuah tangan menuntunku untuk berdiri. Senyum pasta gigi itu menemukan pertahanan terakhirku dan meremukkannya dengan hangat. Tangan kanannya menyelinap di pinggangku dan jemari tangan kirinya menyelinap dalam jemariku. ”Sudah lama kita tidak berdansa dengan lagu ini.” Sudah lama kami tidak berdansa dengan lagu ini. Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya berdansa, tapi perlahan aku menemukan ingatanku dalam setiap langkah. Aku tidak lagi berjalan gontai dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Aku berdansa. Kami adalah dua orang asing yang berdansa tengah malam di atas alunan strangers in the night Sinatra. Tak jauh dari kami
Ferdinand dan Mariane berdansa, begitu juga Samsul Bahri dan Siti
Nurbaya. Tak ada yang tahu letak cinta, tapi cinta tahu untuk siapa dia
ada. Mungkin.
Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal yang
berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama
aku hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak
pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkatku kalau
aku jatuh dan aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku
sendiri. Aku lebih banyak menggunakan ’aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa
pun tentang Asri. Aku tak menyisakan banyak kalimat untuk menggambarkan
betapa cantik senyumnya, molek kulitnya, bagaimana matanya menyihir
kata-kata sampai kehilangan makna. Tentang kesedihannya, kehilangannya…
dia pantas untuk itu. Begitu juga dengan Ranto, nenek dan kakek. Ayah,
ibu, adik, Togar—

Sabtu, 02 April 2011

Mengetahui Informasi Lebih Detail CD/DVD-ROM/RW

Salah satu perangkat keras (hardware) komputer/laptop yang mungkin biasa kita gunakan adalah CD/DVD ROM atau RW (ReWritable). Tetapi mungkin sebagian kita tidak begitu mengenal atau tahu spesifikasi detail tentang DVD ROM atau keping DVD yang kita gunakan. Untuk mengetahui spesifikasi komputer secara umum, software seperti speccy mungkin cocok, tetapi untuk urusan CD,DVD atau Blu-ray kita bisa menggunakan VSO Inspector.

VSO Inspector merupakan software gratis yang bisa digunakan untuk mendapatkan informasi detail tentang perangkat (Drive) CD, DVD atau Blu-Ray. Informasi seperti firmware yang digunakan (termasuk tanggal-nya), kecepatan maksimal serta berbagai fitur yang di dukung oleh media ini. Selain itu kita juga bisa mengetahui informasi tentang keping CD/DVD yang kita masukkan.

Beberapa penjelasan tentang tampilan dan fitur dari VSO Inspector adalah sebagai berikut:
  • Device Features, memberikan informasi detail tentang drive CD, DVD atau Blu-ray, seperti : Model, Format baca dan tulis CD/DVD yang didukung, tanggal dan versi firmware yang digunakan, ukuran buffer dan lainnya.
  • Media, memberikan informasi tentang keping CD/DVD yang dimasukkan, seperti : Jenis media, kecepatan tulis yand didukung dengan drive , jumlah layer, kapasitas, dan lainnya.
  • Scan, untuk mengetahui kondisi data yang ada di keping CD atau DVD, termasuk membaca data yang ada per sector.
Jenis media seperti DVD-ROM, DVD+R, DVD+RW, DVD-R dan lainnya. Untuk mengenai perbedaan beberapa jenis DVD atau CD ini, bisa membaca artikel saya sebelumnya Mengenal Perbedaan CD/DVD -R +R RW
Fitur Scan dapat kita gunakan untuk memeriksa apakah ada data yang rusak atau error di keping CD atau DVD kita. Jika ada error maka akan ditampilkan di warna orange atau merah. Jika kita ingin mengecek area tertentu dari keping CD/DVD, kita bisa menggunakan opsi dari tombol Advanced. Jika kita menemukan ada error, maka untuk menyelamatkan data, kita bisa menggunakan software CD Recovery Toolbox.

Jika kita ingin mengetahui spesifikasi lengkap hardware komputer, kita bisa menggunakan software gratis seperti Speccy, termasuk informasi umum mengenai CD/DVD Drive yang terpasang di komputer. Tetapi untuk masalah CD, DVD, atau Blu-Ray Drive dan kepingnya, VSO Inspector memberikan informasi yang lebih detail.
Download VSO Inspector ( 2.89 MB)

Mengakses File Tersembunyi dengan Google Chrome dan Opera

Windows Explorer mungkin menjadi aplikasi yang sering kita gunakan ketika ingin mengakses atau melihat-lihat file/folder. Tetapi ketika komputer bermasalah (terkena virus atau sejenisnya) atau karena akses terbatas (dibatasi) dan kita ingin melihat file-file yang tersembunyi kadang tidak bisa kita akses. Ternyata menggunakan web browser Google Chrome dan Opera, kita bisa mengakses file/folder di windows yang tersembunyi ini.

Tips ini bermanfaat misalnya ketika komputer tidak bisa di install software tambahan atau ketika di warnet dan kita tidak bisa mengakses drive atau folder tertentu yang di sembunyikan. Dengan Internet Explorer atau Mozilla Firefox, file atau folder hidden tidak bisa ditampilkan.

Seperti terlihat diatas, di mozilla firefox, folder atau file-file yang tersembunyi tidak tampak, tetapi ketika menggunakan Google Chrome, file-file dan folder yang tersembunyi bisa ditampilkan :

Hal ini juga bisa kita lakukan dengan web browser Opera :

Untuk melihat-lihat file atau folder, ketikkan Drive letter di alamat URL di google chrome atau Opera. Misalnya mengakses drive C, ketikan saja : C:

Kita bisa membuka folder-folder dan melihat isinya, termasuk mengakses file, tetapi file/folder yang ditampilkan tidak bisa di hapus melalui web browser tersebut, meskipun bisa saja di copy ( klik kanan dan pilih save as). Jika ingin menggunakan software untuk mencari file-file hidden, menghapus dan mengganti atributnya bisa menggunakan program kecil yang sebelumnya pernah saya buat Hidden File Tool.
ebsoft via Raymond.cc

3 Software Berkualitas Berbayar kini Gratis (Freeware)

Jarang kita mendapatkan software berkualitas yang sebelumnya berbayar, kini berubah menjadi gratis (freeware). Tetapi kini kita bisa mendapatkan 3 software berkualitas yang sebelumnya berbayar menjadi gratis, yaitu : WinX DVD Author, Chasys Draw IES dan Buffer Zone Pro. Apa kegunaan, fitur-fitur software tersebut serta dimana lokasi download-nya? Ikuti ulasan selengkapnya berikut.

WinX DVD Author

Digiarty software merupakan salah satu pengembang software yang banyak membuat berbagai aplikasi tentang Multimedia (Audio dan Video). Salah satu produknya adalah WinX DVD Author, software untuk membuat Video DVD ( 4.3 GB ) dengan berbagai fitur yang menarik serta mudah digunakan. Kita bisa membuat video DVD dari berbagai format video yang umum kita dapatkan di internet (seperti MKV, M2TS, M4V, MP4, FLV, MPEG, MOV, RM, RMVB, H.264, AVI dll)
winx-dvd-author
Ulasan lebih lengkap tentang WinX DVD Author bisa melihat tulisan saya sebelumnya : Dapatkan Gratis WinX DVD Author Full Version
Download WinX DVD Author ( 9.26 MB)

Buffer Zone Pro

Jika anda pernah mendengar DeepFreeze, yang merupakan software untuk proteksi komputer dengan sistem virtualisasi. Kini Buffer Zone Pro, salah satu alternatif software virtualisasi untuk mencegah dari serangan virus, program berbahaya, untuk proteksi ketika berinternet atau untuk sekedar mengetes ketika menjalankan program yang belum, yang sebelumnya berbayar kini berubah menjadi gratis (Freeware).

Buffer Zone Pro akan bekerja dengan menjalankan aplikasi atau program dalam sistem virtualisasi yang terisolasi, sehingga jika program atau aplikasi ini bersifat merusak, tidak akan berefek ke sistem windows. Berjalan untuk Windows XP/ Vista/ 7 (32-bit). Ulasan lebih lengkap, silahkan membaca tulisan saya sebelumnya tentang Buffer Zone Pro
Download Buffer Zone Pro ( 14.57 MB)

Chasys Draw IES

Bagi kita yang sering melakukan editing gambar dan membutuhkan alternatif dari software seperti Photoshop, kini bisa mendapatkan software berkelas yang sebelumnya berbayar kini menjadi gratis ( Freeware). Chasys Draw IES merupakan program untuk mengedit gambar (image) yang berbasis layer, seperti halnya Photoshop.

Berbagai fitur editing gambar disertakan dalam program ini, termasuk kemampuan video capture, image converter, photoshop filter plugins, mendukung berbagai format gambar, berbagai tools editing, icon generator, transformasi, perbaikan gambar, efek, blending, dan berbagai fitur lainnya yang biasa didapatkan di program image editor.
Informasi selengkapnya silahkan mengunjungi website Chasys Draw IES
Ingin mencoba ? Download Chasys Draw IES ( 12. 7 MB)

Bagaimana Cara dan Metode Memilih Antivirus Terbaik

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat saat ini mendorong tingkat pertumbuhan virus yang signifikan. Banyaknya virus yang berkeliaran membuat pengguna komputer jengah. Apalagi sistem antivirus tidak seratus persen mampu melindungi komputer ( ini merupakan tulisan dari seorang pemerhati Antivirus, Fajar Novriawan yang menganalisa dari hasil test-test antivirus oleh Av-Comparatives ).

A. Apa antivirus itu?

Sebelum memilih antivirus ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang antivirus. Antivirus yaitu software yang befungsi untuk mendeteksi, menghapus, serta mengkarantina virus-virus dari sistem komputer. Disebut juga Virus Protection Software. Aplikasi ini dapat menentukan apakah sebuah sistem komputer telah terinfeksi dengan sebuah virus atau tidak. Umumnya, perangkat lunak ini berjalan di latar belakang (background) dan melakukan pemindaian terhadap semua berkas yang diakses (dibuka, dimodifikasi, atau ketika disimpan).
Dengan penjelasan tadi akan timbul pertanyaan bagaimana cara memilih antivirus terbaik? Disini saya coba merangkumkan barometer apa yang digunakan dalam memilih produk antivirus.

B. Apa yang menjadi Prioritas dalam menentukan kualitas sebuah produk antivirus ?

Dari hasil survey, maka didapatkan prioritas acuan dalam memilih antivirus :
  1. Rate Detection Test
    Adalah merupakan pengujian signature base antivirus terhadap ribuan bahkan jutaan sample virus, dan kemudian dilakukan perbandingan antivirus manakah yang terbanyak mendeteksi sample virus tersebut.
  2. Heuristic/Prospective/Generic Test
    Adalah merupakan pengujian virus/malware baru yang belum ada dalam database (signature file) akan tetapi memanfaatkan signature database tersebut sebagai acuan untuk mendeteksi virus/malware baru, apabila terdapat ciri-ciri virus/malware maka fungsi heuristic akan mendeteksinya. Dalam hal ini seperti DNA pada manusia, sebagai contoh, Peter Parker adalah sebuah virus dan telah ada dalam signature database sebuah antivirus, sehingga dapat dideteksi bahwa ini adalah virus, tetapi apabila kemudian Peter Parker berubah wujud menjadi spiderman, maka secara dasar signature database antivirus tidak mengenali bahwa ini virus/malware, tetapi fungsi heuristic akan melihat bahwa DNA Peter Parker dan Spiderman adalah sama, maka antivirus juga akan mendeteksi
    bahwa ini adalah virus/malware.
    Jadi dengan fungsi heuristic sangatlah penting setelah Signature Database.
  3. Performance Test
    Penggunaan antivirus tentu saja akan memakan resource komputer, seperti CPU, Memory, disini peran kita adalah harus pintar dalam memilih produk antivirus yang memiliki pengaturan sumber daya yang baik, sehingga tidak menganggu performansi komputer. Saat ini, ada banyak antivirus yang menggunakan beberapa engine dalam produknya, ada yang menggunakan 2 (dua) engine, atau bahkan 7 (tujuh) engine, dimana hal ini akan berpengaruh dengan performansi komputer, resource / sumber daya komputer akan banyak digunakan dibandingkan dengan hanya 1 (satu) engine, antara lain :
    - Gdata : 2 Engines (menyewa engine Bitdefender & Avast)
    - Trusport : 3 Engines (menyewa engine : AVG, Norman and Dr.Web)


C. Organisasi/badan independen mana yang menjadi acuan dalam melakukan komparasi produk antivirus ?

Saat ini ada sekitar 22 badan/organisasi non profit yang membahas dan melakukan komparasi produk antivirus, akan tetapi hanya terdapat sekitar 5 organisasi terpercaya/indenpenden berdasarkan survey, dimana dapat dipastikan tidak ada pesan sponsor di dalamnya, antara lain :
  • AV-Comparatives
  • Virus Bulletin / AV-Test
  • ICSA Labs / West Coast Labs
AV-Comparatives sampai sejauh ini memiliki rating yang tertinggi sebagai badan independen yang melakukan komparasi produk antivirus, serta selalu mendapatkan respon yang sangat positif dari publik dari setiap ulasan yang publikasikan, VirusBulletin dan AV-Test dinilai sama pada urutan kedua, juga ICSALabs dan WestCoastLabs pada urutan ketiga, badan independen ini mensyaratkan kondisi dan minimum requirement dari vendor antivirus yang produknya akan di test.
Sebagai tambahan, disini tidak diikutsertakan analisis dari Gartner, mengingat gartner menganalisis banyak produk dan tidak spesifik ke antivirus saja. Independensi AV-Comparatives dapat dilihat dari penilaian 4 (empat) tahun terakhir untuk kategori “Product of the Year” :
  • Tahun 2007 : Eset NOD32
  • Tahun 2008 : Avira
  • Tahun 2009 : Kaspersky
  • Tahun 2010 : F-Secure
Dimana tidak ada satu merk pun pernah menduduki peringkat “Product Of the Year” secara berturut-turut, sehingga pada artikel ini yang akan dibahas adalah pengujian dari AV-Comparatives.

D. Pengujian / testing oleh AV-Comparatives

Pengujian oleh AV-Comparatives secara periodik dilakukan per 3 (tiga) bulan sekali yang mencakup : Restropective/ Proactive Test dan On Demand Comparative, dimana kita tidak bisa berpedoman hanya dengan sekali pengujian, mengingat konsistensi suatu produk harus dilihat dalam jangka waktu tertentu. Hasil pengujian AV-Comparatives dapat dilihat pada :
http://www.av-comparatives.org/en/comparativesreviews/archive
  • Feb 2007 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report13.pdf
  • May 2007 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report14.pdf
  • Aug 2007 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report15.pdf
  • Nov 2007 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report16.pdf
  • Feb 2008 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report17.pdf
  • May 2008 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report18.pdf
  • Aug 2008 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report19.pdf
  • Nov 2008 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/report20.pdf
http://www.av-comparatives.org/en/comparativesreviews/detection-test
  • Feb 2009 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_report21.pdf
  • May 2009 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_report22.pdf
  • Aug 2009 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_report23.pdf
  • Nov 2009 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_report24.pdf
  • Feb 2010 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_report25.pdf
  • May 2010 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_report26.pdf
  • Aug 2010 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_od_aug2010.pdf
  • Nov 2010 : http://www.av-comparatives.org/images/stories/test/ondret/avc_retro_nov2010.pdf
Setiap hasil pengujian Detection Rate dapat dilihat pada halaman : Summary Result
Berikut hasil rekapitulasi AV-Comparatives periode Februari 2007 s/d November 2010, sampai artikel ini dibuat belum ada report testing baru (klik gambar untuk melihat yang lebih jelas)

Dari kesimpulan di atas, bahwa dalam menentukan kualitas produk antivirus yang terbaik berdasarkan prioritas adalah :
  1. Rate Detection Test
  2. Heuristic/ProActive/Prospective Test
  3. Performance Test
Dan dalam penentuan kualitas produk antivirus terbaik harus dilihat dari beberapa kali pengujian, sehingga kita bisa melihat produk yang benar-benar konsisten dengan kualitasnya.
Wassalam