Jumat, 01 Juli 2011

Doyle : Menjadi Muslim Sebulan

Islamedia - Khawatir dan was-was. Itulah gambaran hati Carol Doyle, pelatih kuda dan terapis pijat dari Dublin, Irlandia, saat menginjakan kaki di Istanbul Turki. Doyle, 27 tahun, sedang mengikuti program menjadi Muslim selama sebulan.

Dua pertanyaan yang mengemukan dalam benak Doyle. Pertama, apakah tempat tidurnya senyaman miliknya? Kedua, apakah secara fisik dan mental akan membuat dirinya nyaman. "Ya ampun, saya akan belajar menjadi Muslim selama sebulan," gumam dia dalam hati, seperti dikutip dari Alarabiya, Senin (13/6).

Program Muslim sebulan merupakan program Yayasan Muslim For A Month yang berbasis di Istanbul, Turki. Yayasan ini memberikan kesempatan kepada warga dunia untuk mengenal tradisi Islam di Turki. Oleh yayasan tersebut, mereka yang terpilih akan diajak untuk menyelami ajaran-ajaran Rumi dan Sufi yang berkembang di Turki. Doyle merupakan salah seorang yang terpilih mengikuti program tersebut.

Doyle, yang baru pertama kali menginjakan kaki di Turki, sempat mengunjungi Masjid Eyup, masjid bersejarah di Turki. Di tempat ini, Doyle yang ditemani seorang pembimbing diperkenalkan dengan tradisi yang berkembang di masjid Eyup. Doyle mengaku, program ini banyak menceritakan kisah menarik.

Sebagai contoh, Doyle berkesempatan untuk mendapatkan cerita dari dua orang Muslim kelahiran Barat. Sosok pertama, merupakan Muslim yang lahir dan dibesarkan di Kanada. Yang kedua, seorang perempuan Inggris yang memutuskan masuk Islam. Dari kedua narasumber itu, Doyle mendapatkan pengetahuan tentang seluk beluk Islam. "Mereka banyak berbicara kehidupan mereka sebagai Muslim dan bagaimana keyakinan mereka kepada Islam membantu untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia," cerita Doyle.

Dalam kesimpulannya, Doyle mengatakan bahwa agama memberikan pengaruh pada budaya yang selanjutnya membantu individu mengintepretasikan sosok Tuhan. Lantaran pengaruh itu pula, agama mempengaruhi bagaimana cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari. "Lantas mana yang datang terlebih dahulu, berdoa atau keyakinan itu sendiri?" tanya Doyle.

Doyle mengatakan dengan suasana Islam yang begitu kental, seorang turis yang tidak beragama pun sulit untuk menghindari suasana azan yang kental dengan nuansa ritual Muslim. Dia mengaggumi panggilan ritual itu yang menyebutkan nama Allah dan Nabi Muhammad SAW sebagai pengejawantahan kemurahan hati dan kebaikan. "Apa pun alasan Anda, saya menemukan kebaikan dalam diri masyarakat jika diikuti, sama hal melepaskan kebencian dalam diri," kata Doyle.

Doyle juga menganggumi pemandangan indah Istanbul, Bursa, Edirne, dan Konya, tempat asal Rumi. Secara pribadi, Doyle menilai keindahan arsitektur begitu mencengangkan. Apalagi, ketika mengetahui bagaimana setiap bangunan yang ada dibangun dengan tidak mengandalkan inteletual tetapi juga spiritualitas. "Saya merasa dalam batu bata itu semua untuk saya. Saya merasa bagian dari itu," ungkap Doyle.

Doyle pun menyempatkan diri mengenalkan jilbab. Saat mengenakan jilbab, ia merasa dekat dengan Tuhan. Doyle percaya setiap manusia memiliki perasaan khusus dan terhubung dengan yang lain, dan merasa memiliki kelemahan yang tidak ingin diperlihatkan kepada orang lain. Mungkin, kata dia, manusia hanya berpikir kelemahan hadi karena mempermalukan manusia lain. "Kita bukanlah mahluk yang kuat. Apalagi saat kita menyadari bahwa diri kita berasal dari batu bata itu, kuat dan indah," kata dia.

Menurut dia, memasuki kepercayaan agama lain tidak akan membagi organisasi agama, tetapi membagi keyakinan terhadap Tuhan dengan perspektif baru. Satu hal lain, dari setiap anggota dari kelompoknya melihat dan merasakan bagaimana kepercataan dalam praktek kehidupan membuat mereka melihat kembali keyakinannya dengan pandangan baru. "Kamu menemukan banyak hal yang belum pernah kami lihat sebelumnya," kata dia.

Setiap Muslim, tidak percaya Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.Bagi mereka, Tuhan itu tak berbentuk, tak terbatas dan mencakup semua. Bagi mereka tidak ada pemisahan antara siapa dan apa pun, entah itu Yahudi, Kristen, atau Ateis.[republika/im]





Tak Percayai Obama, Pria AS Selami Samudra


http://www.kampungtki.com/wp-content/uploads/diving2.jpg
Islamedia - Seorang penyelam profesional bertekad melakukan misi menyelam untuk mencari tubuh Usamah bin Ladin dan membuktikan kepada dunia bahwa dia benar-benar mati dan tubuhnya benar dibuang ke laut.

Bill Warren dari San Diego, California, akan menghabiskan waktu mulai bulan depan menjelajahi kedalaman Laut Arab bagian utara, lokasi yang disebut-sebut Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai lokasi pembuangan jazad bin Ladin.

Menggunakan teknologi canggih, ia menyewa kapal selam, diperkirakan dengan biaya 400 ribu dolar AS. Ia menyelam bersama tim yang dipimpinnya. Mereka akan berangkat dari India Barat.

US Navy Seal menjatuhkan tubuh Osama bin Laden dari USS Carl Vinson ke Laut Arab, tak lama setelah penyerbuan ke rumah persembunyiannya di Pakistan.

Pria eksentrik berusia 59 tahun ini kepada The New York Post menyatakan alasan mengapa ia meluncurkan ekspedisi mahal. "Aku terutama melakukannya untuk membuktikan apakah ia benar-benar mati. Kami melakukan ini karena kami warga Amerika patriotik dan merasa bahwa Presiden Obama gagal memberikan buktinya," katanya.

Warren menambahkan: "Saya punya pacar Rusia, dan dia memberitahu saya bahwa di sana, di kalangan intelijen, mereka tidak percaya bin Ladin benar-benar mati. Aku tidak percaya pemerintah terlebih Obama. "

"Pemerintahan Obama harusnya merilis foto, seperti yang dlakukan dengan Billy Kid, atau Dillinger, atau bahkan Saddam Hussein."

Berbicara tentang tantangan yang terbentang di depannya, Warren berencana untuk menggunakan sisi teknologi tinggi scan sonar yang pernah digunakan untuk menemukan Titanic.

USNavy Seal membunuh orang paling dicari di dunia itu di kompleks di Abbottabad, Pakistan pada Mei. Menurut Gedung Putih, Bin Ladin dimakamkan di laut dari USS Carl Vinson.

Pemerintah AS menyatakan bahwa bukti foto tidak ada.

Jika Warren berhasil menemukan tubuh Bin Ladin, ia akan segera melakukan tes DNA di atas kapal dan merilis foto-fotonya pada publik. Misi ini dilaporkan didanai oleh investor yang berbasis di Chicago, Skotlandia, dan New York.

republika.co.id

Irak Meminta Anggota Kongres Amerika Yang Menuntut Ganti Rugi Untuk Segera Angkat Kaki


http://www.thewe.cc/thewei/_/images_3/iraq/burns_us_flag_sadr_city.jpe
Hubungan diplomasi Irak dan Amerika sempat menghangat ketika enam anggota kongres Amerika mengadakan jumpa pers di Kedutaan Besar Amerika beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Dana Rorabsher, salah seorang dari mereka yang juga ketua Panitia Investigasi Komisi Luar Negeri kongres Amerika mengeluarkan pernyataan yang menuntut Irak untuk mengeluarkan ganti rugi atas kerugian yang diderita Amerika Serikat setelah menggelar operasi militer di Irak yang digagas oleh Presiden Bush sejak tahun 2003. Dia beralasan, bahwa kini Amerika tidak kuasa menanggung beban tersebut dalam kondisi ekonomi dalam negeri sedang mengalami kesulitan seperti sekarang ini.
Karuan saja, pernyataan panas ini mengundang kecaman warga Irak. Pemerintah Irak sigap menghadapi kondisi ini. Melalui juru bicara resminya, Ali Ad-Dabbagh, sebagaimana dilansir oleh berbagai media di Irak, pemerintah Irak menyampaikan protesnya melalui kedutaan Amerika Serikat di Bagdad, atas pernyataan tersebut, bahkan mereka menuntut agar para anggota kongres itu segera angkat kaki dari Irak karena keberadaan mereka tidak disukai. Dijelaskan pula bahwa statement mereka telah menimbulkan kemarahan warga Irak.
Sejauh ini kedutaan Amerika menyatakan bahwa pernyataan tersebut hanya bersifat pribadi, bukan mewakili pandangan resmi pemerintah Amerika Serikat.
Hingga kini, tentara Amerika Serikat yang masih berada di Irak berjumlah 47 ribu personil dari sebelumnya berjumlah 170 personil, setelah sebelumnya dilakukan proses pemulangan pasukan Amerika Serikat dari Irak setahap demi setahap.
(ist)

Gaza Sambut Kedatangan Konvoi “Miles of Smiles 3"

 Ahad (19/6) siang, selepas dhuhur, konvoi kemanusiaan “Miles of Smiles 3" bertolak menuju gerbang perlintasan Rafah setelah menyelesaikan proses pembongkaran kapal yang membawa bahan bantuan di pelabuhan al Arish, Mesir.
Koordinator Publik “Miles of Smiles 3", Isham Mustafa, menegaskan konvoi telah menuju gerbang Rafah dalam perjalanan ke Jalur Gaza setelah menyelesaikan proses pengosongan kapal dan mendapatkan persetujuan final dan izin bagi seluruh isi bantuan dari pihak administrasi pelabuhan.
Mustafa menyatakan bahwa penyambutan resmi dilakukan untuk konvoi ini dengan dihadiri gubernur al Arish dan sejumlah pejabat di distrik tersebut. Dalam sambutannya gubernur memuji misi kemanusiaan konvoi dan upaya yang dilakukan para aktivis yang menyelenggarakan perjalanan ini.
Mustafa menjelaskan bahwa gubernur al Arish akan mengawal konvoi ini sampai di gerbang Rafah sebagau ungkapan apresiasinya kepada para peserta konvoi yang mengusung arti kemanusiaan yang besar.
Sementara itu Jurubicara Komite Pemerintah untuk Pembebasan Blokade dan Penyambutan Delegasi di Gaza, Anwar Atallah, mengatakan bahwa konvoi “Miles of Smiles 3" telah tiba di sisi Mesir dari gerbang Rafah. Mereka sekarang ini sedang meninggu diizinkan masuk ke sisi Palestina menuju Jalur Gaza.
Dia menambahkan, "Jumlah relawan internasional dalam konvoi ini mencapai 53 relawan dari berbagai negara asing dan Arab. Di antara mereka ada tokoh terkenal seperti mantan Menteri Pembangunan Inggris beserta istrinya dan Wakil Walikota London. Konvoi ini juga membawa serta 15 truk berisi obat-obatan khusus, perlengkapan medis dan lainnya.
Dia menegaskan pihaknya telah melakukan kesiapan penuh di gerbang Rafah untuk menyambut kedatangan konvoi secara resmi. Diprediksi para relawan konvoi ini akan berada di Jalur Gaza selama lima hari di Jalur Gaza untuk melakukan program-program tertentu. [infopalestina/asw]

Pangeran Saudi Diduga Gay Dan Diadili Karena Membunuh


Islamedia - Seorang pangeran Arab Saudi tengah diadili atas dakwaan pembunuhan seorang pelayan prianya. Pangeran yang diduga gay itu dituduh telah memukuli dan mencekik pelayannya hingga tewas di kamar hotel mewah di London, Inggris.

Dalam persidangan di Pengadilan Kriminal Pusat Inggris di London, Pangeran Saud Bin Abdulaziz Bin Nasir al Saud dinyatakan membunuh Bandar Abdullah Abdulaziz pada 15 Februari lalu. Pangeran berumur 34 tahun itu merupakan cucu Raja Saudi, Abdullah.

Korban, seorang pria berumur 32 tahun, ditemukan tewas di atas ranjang di kamar hotel dengan luka-luka parah termasuk bekas gigitan pada kedua pipinya. Ranjang tersebut penuh dengan bercak darah.

Menurut jaksa, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (6/10/2010), Pangeran Saud dan korban tidur sekamar di Landmark Hotel tersebut.

Jaksa Jonathan Laidlaw mengatakan pada juri, Saud telah mengaku bersalah atas dakwaan pembunuhan yang tidak disengaja. Menurut Laidlaw, kedua pria itu telah menginap bersama di hotel tersebut selama hampir sebulan sebagai bagian dari liburan. Dalam acara liburan tersebut, keduanya juga pergi ke Italia, Hungaria, Republik Ceko dan Maroko.

Sebelumnya Saud telah mengklaim bahwa mereka hanya berteman. Saud juga membantah dirinya gay. Namun di pengadilan terungkap bahwa anggota keluarga kerajaan Saudi itu telah memesan para pengawal gay di London. Saud juga kerap mengecek situs-situs untuk mencari panti-panti pijat khusus gay.

Hasil otopsi menunjukkan bahwa korban mengalami pukulan berat ke kepala, luka-luka di otak dan telinga serta luka parah di leher. Ada juga beberapa bekas gigitan di kedua pipinya yang memiliki "konotasi seksual yang jelas," ujar Laidlaw. Menurut jaksa, luka-luka itu menunjukkanh ganasnya serangan yang telah dialami korban.

Sebelumnya, pangeran itu juga pernah menyerang pelayannya itu pada beberapa kesempatan. Termasuk saat berada di dalam lift hotel tersebut pada Januari lalu.

Adegan pemukulan yang dilakukan Saud terhadap korban saat itu terekam dalam kamera CCTV hotel. Dalam rekaman yang diperlihatkan pada dewan juri itu, Saud terlihat berulang kali melancarkan pukulan ke kepala korban.

Ayah Saud adalah keponakan Raja Abdullah dan ibunya merupakan salah satu anak perempuan Raja Abdullah.

sumber : detik